4:58 AM

ABU NUWAS

LEGENDA HUMOR PENYAIR ISLAM



“Tuhanku, aku tak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku juga tak sanggup menahan panas api neraka. Maka berilah aku tobat dan ampunilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Prmurah lagi Maha Agung.”



Senandung syair yang menyentuh hati itu mengalun begitu merdu sembari menunggu datangnya shalat maghrib dan subuh, para jamaah sholat kerap melantunkan syair itu dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski syair itu telah berumur hamoir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi.


Syair pengingat dosa dan kematian itu boleh dibilang begitu melegenda, seperti nama besar pengarangnya Abu Nuwas yamg hingga kini tetap dan diperbincangkan. Abu Nuwas atau Abu Nawas adalah penyair islam termasyhur pada era kejayaan islam.



Orang Indonesia begitu akrab dengan Abu Nawas lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang punya nama lengkap Abu Nawas Al-Hasan Bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas keritik bebungkus humor.



Penyair yang dikenal cerdik dan nyentrik ini tida diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahiranya. Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M. ada yang menyebut tanah kelahiranya di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nuwas tidak pernah bertemu ayah.



Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada penjaga took dari yaman bernama Sa’ad Al-Yashira. Abu Nuwas muda muda bekerja di took grosir milik tuanya di basra, irak. Sejak remaja, otak Abu Nuwas yang encer menarik perhatian Walibah ibnu Al-Hubab,seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebadkan Abu Nuwas dari tuannya.



Sejak itu Abu Nawas terbebas dari setatusnya sebagai budak belian. Al-Hubab pun mengajarinya teologi dan tata bahasa. Abu Nawas begitu tetarik dengan dunia sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf Al-Ahmar di Kufah.



Sang guru memerintahkannya untuk berdiam di padang pasir bersama oang-orang badui untuk mendalami dan memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan metropolis intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid.



Sebagai penyair yang nyentrik, masa mudanya penuh dengan gaya hidup yang controversial, sehingga membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khasanah sastra Arab Islam.



Namun, di mata Ismail bin Nurbakht Abu Nawas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan. “saya tidak pernah melihat orang yang mau belajar lebih luas disbanding Abu Nawas. Tidak ada seorang pun. Dengan ingatan yang sangat kaya, namun koleksi bukunya sangat sedikit. Setelah tutup dia usia, kami mencari rumahnya dan hanya menemukan sebuah buku di rumahnya,” papar Ismail bin Nubakht dalam catatanya.



Bebekal kepiawaian menulis puisi, Abu Nawas bisa berkenalan dengan para pangeran,. Sejak dekat dengan bangsawan, puisinya puisinya berubah nenuja penguasa. Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.



Karier Abu Nawas di dunia sastra pun semakin kinclong setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melaluin perantara musikus istana, Ishaq Al-Wawsuli, abu Nawas akhirnya didupak menjadi penyair istana (sya’irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya mengubah puisi puji-pujian untuk khalifah.



Kegemaranya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering ngocol, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran bila ia sering disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khzanah keilmuan islam.



Kedekatanya dengan khalifah berakhir di penjara. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murks. Ia lantas dipenjara. Setelah bebas ia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak.



Ia hengkang dari Baghdad setelah kejayaan Barmak jatuh pada tahun 803 M. setelah itu, ia hijrah ke Mesir dan mengubah puisi untuk gubernur Mesir, Khsib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nawas akhirnya kembali ke Baghdad setelah Hrun Al-Rasyid meninggal dan digantikan al-Amin.



Sejak pendekaman di penjara puisi-puisi Abu Nawas berubah menjadi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahanya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai ungkapan rasa keagamaan yang tinggi.



Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang diciptakanya menggambarkan perjalanan sepiritual mancari hakikat Allah.



Di akhir hayatnya ia, menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahiranya yang tak jelas, tahun kematianya terdapat beragam versi. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung kota Baghdad. ■heri ruslan



Hebat euy….. capa yang mo nyusul nie??? Jadi pelawak juga…. *mang punya uang lo mau nyusul ke baghdad sana… lagian gurunya juga dah pada ninggal kan??? He…he…he…





















You Might Also Like

0 komentar

no sara...

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images