AKHIR PEMIKIRAN IBU KARTINI

8:25 AM

Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia .
dan akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.



Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah
sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak
terungkap. Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang
disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir
hayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah



KARTINI DULU


Ngga bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini
memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat,
serta mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah
contoh surat-suratnya:

"…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik
itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa"
[ surat kepada Stella, 25 Mei 1899]



"Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland , karena Holland akan
menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih."
[ surat kepada Ny Ovinksoer, 1900]



Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Temen
surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendak
membaratkan kaum ningrat di Indonesia , dimana tujuan akhirnya adalah
agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia
Belanda pada jaman tersebut. Mari kita simak teman-teman korespodensi
Kartini. siapa sajakah mereka..?.



1. J.H. Abendon

Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan,
Agama, dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck
Hurgronye (seorang orientalis yang pura-pura masuk islam untuk mencari
cara mematikan semangat jihad umat islam di Indonesia ). Menurut
Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda
adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat
pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam.
Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah
dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil
adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam
untuk kemudian dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk
mendekati Kartini.



2. Stella (Estelle Zeehandelaar)

Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri
Belanda saat itu.



3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)

Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan
progresif. Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah
Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan
kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini
dari ketidakpeduliannya terhadap agama.



BERTEMU KYAI SHOLEH DARAT

Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga
punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam
tanpa memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini
kepada stella berikut ini.



"Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan
tidak boleh memahaminya. Al Qur'an terlalu suci, tidak boleh
diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti
bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur'an tapi tidak
mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang
diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya." [ surat kepada
Stella, 6 Nov 1899]



Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim
memang dibolehkan mengajarkan Al Qur'an dengan syarat nggak
diterjemahin alias cuma belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih
dapat kita jumpai saat ini, dimana belajar Al-quran dianggap selesai
ketika telah mampu membaca Al-quran dengan lancar sampai akhir
walaupun tidak paham makna-nya –khataman-). Dan ini memang taktik
belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan
akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir
belanda.



Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati
Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk
anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita
lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yg sedang
diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai
pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya
menemui Kyai Sholeh Darat.



Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat
mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah
menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh
diminta menerjemahkan Al Qur'an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku
berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri
dari 13 juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu
dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M.
Joyodiningrat, Bupati Rembang.



Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut.
Namun, Kartini hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam
mengenal Islam.



Tahu nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu
sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu
firman Allah"…minazh-zhulumaati ilan-nuur" yang artinya "dari
kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)". Oleh Kartini
diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". dan
kemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat
Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"



KARTINI KEMUDIAN


Kartini yang mulai mengenal islam pun berubah. Pandangannya terhadap
Islam menjadi positif.



"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain
memandang agama Islam patut disukai" [ surat kepada Ny. Van Kol, 21
Juli 1902].



Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita,
bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh
pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok
disebut sebagai westernisasi) , namun agar para wanita lebih cakap
menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:



"Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak
perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak
perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.
Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita,
agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang
diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik
manusia yang pertama-tama. " [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt
1902]



Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis;



"Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan
bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman
kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia.
Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah" [kpd
Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]



"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu
benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan
kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu
sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam
masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut
disebut sebagai peradaban?" [ surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]



Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari
setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam.
namun yang patut disayangkan kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini
hanyalah sekedar pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak
tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.



Smoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang
IBU KITA KARTINI, daripada sekedar peringatan tahunan tampa makna.
(nanang r disadur dari majalah Elfata)

You Might Also Like

0 komentar

no sara...

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images