Serba Serbi Kun Fayakun The Movie

1:10 PM

Bermula dari keprihatinan H.Yusuf Mansyur terhadap tayangan-tayangan bioskop yang diwarnai dengan film-film yang kurang bertanggungjawab terhadap ahlak dan moral.maka tercetuslah sebuah ide memproduksi film dengan tema lain,dengan harapan dapat menjadi tontonan alternatif sekaligus tuntunan.

Kenapa mengambil judul “Kun
Fayakuun” ?
Ayat ini begitu popular,karena seringkali terucap dari bibir
Seorang H.Yusuf Mansur dalam penayangan sinetron “Mahakasih”
Sejak episode perdana,potongan ayat “Kun Fayakuun” ini begitu lekat dalam hati pemirsa.sampai-sampai ingat “Kun Fayakun”,ingat pula pada seorang Ustadz muda yang menjadi pengantar dan penutup tausiyah disinetron “Mahakasih” (RCTI) dengan gaya melantunkan qira’ah-nya yang begitu fasih.

Suatu hari H.Yusuf Mansur berdiskusi dengan beberapa sahabatnya,H.Novaris dan H.Dhony,disebuah majelis sebelah rumahnya.darisana muncul ide cerita tentang seorang tukang kaca yang terinspirasi dari testimony seorang jemaah dari daerah di Banten.

Singkatnya,tersusunlah naskah dari ide cerita H.Yusuf Mansur.sementara scenario ditulis H.Guntur Novaris.gagasan pertama kami akan membuat sinetron.H.Yusuf Mansur menyiapkan sejumlah uang untuk produksi film tersebut.
Sisi lain,dana yang dimiliki saat itu tidak mencukupi untuk produksi sebuah pementasan layar lebar.sehingga uang yang dimiliki akhirnya disedekahkan den mengundur waktu produksi.
Subhanallah,diwaktu yang deadline produksi film “Kun Fayakuun” mendapat pinjaman dari sebuah Bank.terlebih jumlahnya melebihi dari yang ditargetkan.

SETENGAH HONOR AGUS UNTUK MEMBELI ANAK

Setelah proses casting berjalan,sangat sulit mencari tokoh utama pria untuk memerankan Pak Ardan,suatu hari disaat tim casting sudah buntu,H.Yusuf Mansur menelepon H.Dhony selaku produser pelaksana untuk memilih Agus Kuncoro saja sebagai pemeran Pak Ardan,dengan pertimbangan beliau Agus Kuncoro yang cocok untuk peran itu.

Suatu hari H.Yusuf Mansur berbincang dengan Agus Kuncoro.dari perbincangan itu Agus bercerita bahwa dirinya sudah tiga Tahun menikah belum dikaruniai anak.saat itu H.Yusuf Mansur dengan nada rendah dan tenang melontarkan kalimat”Gus,kalau mau punya anak,honor kamu yang setengah jangan diambil dan usahakan untuk disedekahkan untuk membeli anak”.Nampaknya kalimat pendek H.Yusuf Mansur itu membekas dihati Agus Kuncoro.

Perjalanan syuting satu bulan telah dilalui,Agus sebagai pemeran utama tampak lebih capek dibanding pemain lainya.meskipun demikian Agus tidak melewatkan puasa Senin dan Kamis.

Diperjalanan satu Bulan syuting itulah terkirim sebuah Short Message Service (SMS) 3 Minggu setelah syuting berakhir.kepada H.Yusuf Mansur “Alhamdulillah,istri saya sudah telat lima Minggu,positif hamil”, Subhanallah………..

TIADA HARI TANPA DHUHA

Tiada Hari dalam sebulan itu tanpa shalat dhuha,sampai-sampai ada seorang kru yang selama hidupnya baru pertama kalinya melaksanakan ibadah shalat dhuha.Tetapi Ia harus mentaati peraturan shalt dhuha yang ditetapkan H.Yusuf Mansur sebagai syarat kru sebelum syuting dilaksanakan setiap harinya.Disamping itu shalat lima waktu otomatis menjadi syarat lainya yang mutlak dan wajib dijalankan seluruh kru film.


Sebuah kejadian unik dalam film ini,ada karakter khusus untuk rumah tokoh utama Pak Ardan.Sebuah rumah khas betawi tempo dulu yang digambarkan dalam skrip,tidak kunjung dijaumpai kru untuk dijadikan lokasi syuting.sekalinya ada,kru tidak memungkinkan karena jauh untuk melakukan syuting disana.Dua minggu sudah tim artistic berusaha mendapatkan rumah yang dimaksud.Suaru sore tim artistic patah arang dan mengeluh.Hingga sampailah kabar buruk itu ditelinga H.Dhoni (produser).
H.Dhoni pun akhirnya turun tangan mengajak para kru artistic untuk mencari lokasi yang letaknya lebih dekat dari studio mereka,dan menitipkan pesan “jangan lupa menyisipkan waktu doa,libatkan Allah dalam masalah ini” pinta H.Dhoni kepada kru.
Subhanallah, pagi itu juga kaki kru dibimbing Allah kesuatu daerah dimana sebuah rumah yang dimaksud ditemukan,persis seperti yang digambarkan dalam naskah dan sesuai dengan keinginan Sang sutradara (Guntur Novaris).

You Might Also Like

0 komentar

no sara...

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images