Ancaman di Luar Angkasa yang Kian Sesak

12:48 PM


Selama 51 tahun aktivitas manusia di luar angkasa, hasilnya adalah sekitar 18.000 obyek yang kini mengorbit Bumi. Jumlah itu cenderung meningkat dari waktu ke waktu sehingga risiko tabrakan antarobyek di luar angkasa kian tinggi.
Yang terkini, dan baru pertama kali terjadi, adalah tabrakan dua satelit besar milik AS dan Rusia sekitar 790 kilometer di atas Siberia, Rusia. Puing akibat tabrakan itu menambah jumlah sampah di luar angkasa.

Berdasarkan laporan Space Security Index tahun 2008, sebelum tabrakan dua satelit itu terjadi, ada lebih dari 300.000 obyek di sekeliling Bumi yang berdiameter 1-10 sentimeter dan ada miliaran obyek yang lebih kecil. Obyek-obyek itu bergerak dengan kecepatan mencapai ribuan kilometer per jam sehingga kepingan paling kecil pun bisa menyebabkan kerusakan besar saat menabrak obyek lain.

Sekitar 6.000 satelit telah dikirim ke luar angkasa sejak Uni Soviet meluncurkan pengorbit buatan manusia pertama, Sputnik 1, tahun 1957. Menurut STRATCOM, sekitar 800 satelit masih tetap beroperasi. Adapun NASA World Book menyebutkan ada sekitar 3.000 satelit yang berfungsi.

Tabrakan antara satelit komunikasi Iridium milik perusahaan di AS dan satelit militer milik Rusia kian menegaskan pentingnya pemantauan obyek luar angkasa. Tabrakan itu juga menunjukkan masih ada gap yang signifikan dalam sistem yang ada sekarang ini.

Sulit diprediksi

Pejabat Rusia dan AS saling menyalahkan soal tabrakan satelit itu. Ahli luar angkasa Rusia menuding Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) gagal memberi peringatan sebelum tabrakan.

”Saya tidak mengerti mengapa para ahli NASA gagal mencegah tabrakan. Bisa saja ada kegagalan komputer atau kesalahan manusia. Bisa juga karena mereka hanya memerhatikan puing kecil-kecil dan mengabaikan satelit mati,” kata Igor Lisov, ahli luar angkasa asal Rusia.

Namun, NASA mengatakan, Rusia menuding lembaga yang salah. Pemilik satelit Iridium, Iridium Holdings LLC, juga menyatakan satelit mereka berada di tempat seharusnya dan berfungsi dengan baik.

Baik AS maupun Rusia memiliki jaringan stasiun pelacak untuk memonitor obyek luar angkasa. AS mengoperasikan 25 pusat pengawasan luar angkasa di seluruh dunia, salah satunya RAF Fylingdales di Inggris. Rusia memiliki fasilitas pengawasan mencakup sistem pelacak optik Okno di Tajikistan, radar jarak jauh Krona, dan pusat pelacak optik di Storozhevaya di barat Rusia. China dan Badan Luar Angkasa Eropa (Esa) tengah mengembangkan sistem mereka sendiri.

”Sayang sekali kami tidak bisa memprediksi semua tabrakan sepanjang waktu,” kata Manajer Program Puing Pengorbit NASA Nicholas Johnson.

Puing-puing tabrakan itu mengancam obyek lain di luar angkasa. Walaupun para ahli menyatakan bahwa Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) tidak berisiko terkena imbas tabrakan, ancaman terhadap obyek luar angkasa lain, seperti Teleskop Luar Angkasa Hubble dan satelit observasi Bumi, lebih besar. Obyek-obyek itu mengorbit Bumi di ketinggian 707 kilometer, tidak jauh dari orbit tabrakan kedua satelit.

”Ada cukup banyak satelit di dekat orbit tabrakan. Sebanyak 65 satelit Iridium lain menghadapi risiko paling serius. Pecahan satelit bisa memicu rangkaian tabrakan,” ujar Lisov.

Para ahli luar angkasa akan bertemu di Vienna, Austria, pekan depan, mencoba menemukan cara mencegah tabrakan di luar angkasa.


You Might Also Like

0 komentar

no sara...

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images